JAKARTA – Wisatawan Muslim dunia tampaknya menjadi target konsumen potensial. Kedatangan mereka mewakili 10% dari keseluruhan sektor perjalanan.

Pasar wisata muslim meningkat seiring laju pertumbuhan penduduk dan peningkatan ekonomi. Hal ini tercermin dalam studi Global Muslim Travel Index (GMTI) Mastercard-CrescentRating 2017.

Studi ini mengungkap pada 2016 diperkirakan total kedatangan wisatawan Muslim secara global mencapai 121 juta, naik dari 117 juta pada 2015 dan mewakili 10% dari keseluruhan sektor perjalanan.

Pasar wisata Muslim juga diperkirakan tumbuh pesat. Pada 2016 pengeluaran wisatawan Muslim mencapai US$155 miliar. Namun, diperkirakan meningkat menjadi US$220 miliar pada 2020. Bahkan pasar ini diproyeksikan mencapai US$300 miliar pada 2026.

Indeks yang mencakup 130 destinasi wisata di negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan non-OKI ini menunjukkan, Asia masih menjadi destinasi pilihan wisatawan Muslim dengan nilai 57,6. Kemudian disusul kawasan Afrika (47), Oceania (43,8), Eropa (39,9) dan Amerika (33,7).

Destinasi pilihan wisatawan Muslim di negara OKI pada 2017 ditempati Malaysia sebagai peringkat utama. Kemudian peringkat selanjutnya yakni Uni Emirat Arab, Indonesia, Turki, Arab Saudi, Qatar, Maroko, Oman, Bahrain dan Iran.

Sementara destinasi favorit wisatawan Muslim dunia di negara non-OKI antara lain Singapura, Thailand, Inggris, Afrika Selatan, Hong Kong, Jepang, Taiwan, Prancis, Spanyol dan Amerika Serikat.

Dalam indeks ini, posisi Indonesia sebagai destinasi pilihan wisatawan Muslim dunia meningkat dari posisi ke-4 pada 2016 menjadi ke-3 pada 2017.

CEO CrescentRating & HalalTrip Fazal Bahardeen mengatakan, Indonesia telah menanamkan investasi yang besar terhadap sektor ini. Hal tersebut tercermin pada peningkatan yang dicapai Indonesia dalam peringkat secara keseluruhan selama dua tahun berturut-turut.

“Kami tentunya melihat adanya pengaruh dari generasi wisatawan muda, milenial dan Gen Z,” katanya dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (3/5/2017).

Menurutnya, mereka menginginkan pilihan lebih banyak, pengalaman unik dan konektivitas konstan yang dapat dilihat dari pertumbuhan segmen gaya hidup Muslim lainnya seperti kuliner dan fesyen.

“Melalui wawasan dari GMTI akan menjadi hal penting bagi tim manajemen dan pengambil keputusan di destinasi wisata untuk senantiasa mencari solusi pasar ini,” tutupnya.

Source: link