JAKARTA – Malapetaka itu bermula pada 2009 silam. Sejarah otomotif dunia mencatatkan bahwa industri otomotif terbesar di dunia, GM (General Motors) jatuh terseok hingga dasar. Posisi puncak penjualan terbesar di dunia selama 70 tahun pun akhirnya harus diserahkan ke pemain Jepang, Toyota.

Kembali mencoba bangkit, tak berselang lama GM sempat merasakan lagi puncak kejayaan pada 2011 dengan capaian total penjualan kendaraannya di pasar global 9.026.000 unit, melampaui Toyota yang saat itu dilanda bencana alam, sehingga produksi-distrbusi terhambat.

Namun, lagi-lagi GM tak bisa mempertahankan cakarnya di industri otomotif. Sejak 2012 hingga 2016, perusahaan yang bermarkas di Detroit ini tidak lagi menyabet predikat produsen otomotif terbesar dunia, kalah bersaing dengan Toyota dan Volkswagen AG. Bahkan aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi siap menggeser posisi GM pada tahun-tahun ke depan.

Lemahnya kekuatan GM dalam persaingan di sejumlah negara membuatnya semakin terpuruk, terutama persaingan dalam inovasi produk di segmen volume maker, dan keterlambatan menjamah kendaraan berteknologi hibrida dibanding Jepang, karena terlalu asik dengan SUV dan pikap-truk. Selain itu juga, krisis keuangan dunia menjadi dampak yang ikut melilitnya.

Langkah Mundur Dimulai

Mulai dari Eropa, 2013 menjadi tahun penyusutan paling drastis untuk pasar mobil baru sejak 1990, yaitu turun hingga 10,2%. Sehingga tercatat tiga merek paling terimbas adalah GM, Fiat, dan Ford.

Di mana, GM akhirnya mengubah strategi untuk sejumlah model, terutama Chevrolet yang tidak lagi masuk pada produk-produk volume maker di Eropa Barat dan Timur. Jadi hanya bermain di sejumlah segmen tertentu lewat Opel, Vauxhall, dan Cadillac.

Selanjutnya, setelah upaya reposisi di pasar Eropa, GM kembali mengejutkan melalui kabar penutupan pabrik di Australia. Kurangnya permintaan, tekanan ekonomi di benua Kangguru itu, dan langkah efisiensi dari pusat menjadi alasan mereka memutuskan hanya menjalankan operasional penjualan saja.

Hanya dalam kurun waktu dua tahun, pada 2015 posisi GM di pasar Asia Tenggara terus mengalamai gejala kronis. Indonesia yang tadinya diharapkan menjadi salah satu pasar yang bisa memberi harapan melalui produk di segmen volume maker, yaitu Chevrolet Spin, pun dihentikan beserta jalur produksinya. Karena ditengarai telah merugikan GM hingga Rp 2,7 triliun sejak beroperasi pada 2013.

Berselang sehari, GM Thailand ikut mengumumkan langkah restrukturisasi dengan menyudahi produksi Chevy Sonic di Ranyong. Selain penurunan penjualan, efisiensi operasional di pasar Asia jadi alasan utama.

Menyeberang ke Singapura, GM International juga memutuskan langkah penghematan operasional kantornya di Singapura – yang merupakan kantor pengawas untuk pasar India, Asia Tenggara, dan Korea Selatan, dengan merumahkan sekitar 130 karyawannya. Dengan demikian, GM berharap bisa memanfaatkan biaya $ 139 juta per tahun.

Pasalnya, sebelumnya GM juga sudah mengumumkan penghentian penjualan Chevrolet dari pasar domestik India, Afrika Selatan dan Timur dalam tenggat waktu hingga akhir tahun ini, dan hanya memproduksi untuk kebutuhan ekspor saja. Lemahnya penjualan di kedua pasar ini adalah faktor yang melatarbelakanginya.

Begitu juga di negara terbesar wilayah Amerika Selatan, Brasil dan Venezuela. Baru saja, GM menangguhkan kontrak 2.200 karyawan pabriknya di Sao Jose dos Campos karena penyesuaian jumlah permintaan produksi untuk Trailblazer dan SUV S10.

Sementara di Veneuela, GM telah memecat 2.700 karyawannya di pabrik GM Valencia, karena tidak lagi beroperasi sejak 2016.

Apa yang sudah dilakukan GM dalam beberapa tahun belakang tersebut, menurut CEO GM, Marry Barra, adalah strategi perubahan bisnis GM dan mendirikan GM sebagai perusahaan yang lebih fokus dan disiplin. Selain itu, GM juga ingin memfokuskan modal dan sumber dayanya pada peluang bisnis yang dapat menghasilkan keuntungan lebih tinggi.

China “Si Juru Selamat”

Tak salah memang langkah penghematan raksasa otomotif Amerika Serikat itu, dan kemudian mengalihkannya ke pasar dengan potensi yang lebih menggairahkan.

Salah satu “juru selamat” GM dalam beberapa tahun ini adalah pasar China, yang sejatinya merupakan negara ekonomi yang kini menjadi pesaing terkuatnya. Terhitung pada 2013 saja, mereka sudah mengeluarkan secara bertahap dana sebesar $ 11 miliar hingga 2016. Investasi ini mencakup pembangunan empat pabrik di China.

Bukan tanpa alasan, sampai 2015 lalu GM telah menggelontorkan 9 juta unit lebih di pasar China. Keuntungan perusahaan sendiri atas operasinya di China, termasuk usaha patungan dengan perusahaan lokal China, telah menyumbang lebih dari 20 persen laba bersih GM.

Tahun lalu, GM masih bertengger di posisi ketiga penjaulan terbesar di dunia, setelah Toyota, dan Volkswagen AG di urutan puncak. Namun, apakah cukup hanya mengandalkan pasar China tanpa melakukan evaluasi di beberapa negara lainnya. Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi tentu jadi ancaman nyata yang siap menggeser eksistensi GM.

Bagaimana GM Indonesia?

Di antara negara Asia, lantas bagaimana dengan Indonesia? Sempat diterpa badai pada 2015 silam, yang akhirnya mengembalikan lagi status General Motors Indonesia (GMI) sebatas operasional penjualan Chevrolet dari status produsen, ternyata tidak lantas membuat mereka terpuruk.

GMI mengakui masih ada semangat bertahan dan melangkah agresif kendati ditekan persaingan yang begitu kuat, ditambah upaya efisiensi dari kantor pusat.

Klaim agresifitas itu pun keluar dari Chevrolet Communication & External Affairs Director PT GM Indonesia, Yuniadi Haksono Hartono kepada Dapurpacu.com, Selasa (30/5), bahwa optimisme GMI tahun ini sudah ditunjukan lewat peluncuran 4 model pembaruan (Trax, Spark, Trailblazer, dan Colorado) dan itu hanya dalam kurun waktu 3 bulan pertama 2017.

“Jadi strategi kita tahun ini memang memperbesar product portofolio Chevrolet. Di mana sejak Februari hingga April kemarin kita sudah meluncurkan 4 model pembaruan. Ini sekaligus bukti komitmen kita di pasar Indonesia,” tegasnya.

Hasilnya, capaian positif penjualan pun diterima GMI jika melihat empat bulan pertama tahun ini dibanding periode yang sama tahun lalu. Yaitu total telah mendistribusikan sebanyak 1.020 unit, sementara pada 2016 hanya 761 unit (Data wholesale GAIKINDO Januari-April/2016-2017).

Selain penambahan model baru, GMI juga memfokuskan pada peningkatan pelayanan kepada pelanggan. Sejumlah program purna jual pun direalisasikan, termasuk menjaga konsistensi jaringan penjualan yang saat ini tersebar sebanyak 35 diler, 3 authorized service outlets, dan 770 part shops.

Source: link 

©Exclusive from Dapurpacu.com for AdiraClubMember.com