JAKARTA – Sejak Henry Ford memassalkan sistem roda berjalan pada mobil di akhir tahun 1800-an, kendaraan beroda empat itu terus bersolek dengan memoleskan beberapa fitur hiburan.

1920 – 1950
Di tahun 1920, teknologi vacuum tube mulai diperkenalkan dan menjadi bagian dari sistem hiburan pada mobil. Saat itu, hiburan yang diterima hanyalah berupa siaran radio dengan frekuensi AM.

Sementara di tahun 1932, American Galvin Manufacturing Corporation memamerkan radio Motorola pertamanya yang dibanderol 130 USD, harga yang cukup fantastis saat itu. Di periode ini pula, beberapa merek audio mulai bermunculan, termasuk perusahaan audio asal Jerman, Blaupunkt.

Puncak kejayaan radio AM berada di periode ini, tepatnya saat terjadi Perang Dunia II. Hampir semua teknologi pada waktu itu berpusat untuk mengembangkan frekuensi AM di dalam mobil yang tidak hanya dipakai untuk menerima siaran saja, namun juga bisa memberikan siaran (encoder – decoder).

Di periode ini, radio AM digunakan oleh lebih dari 9 juta orang, termasuk dari mobil yang sudah memiliki radio.

1952 – 1960
Radio masih terus berkembang pasca Perang Dunia II. Hal ini dibuktikan dengan eksperimen Becker Mexico yang berhasil memperkenalkan sistem radio dengan frekuensi AM/FM. Kedua frekuensi tersebut juga sudah terinstalasi di dalam mobil.

1964 – 1990
Pada tahun 1964, Phillips merilis kaset pita (compact cassette) lengkap dengan pemutar musiknya. Mulai dari sini, perkembangan car entertainment system berkembang pesat seiring dengan revolusi industri yang turut mempengaruhi produksi perangkat audio.

Setahun berselang, Motorola bahkan sudah bisa menginstalasi kaset pita tersebut dengan delapan lagu, plus memberikan fitur baru pada pemutar musiknya, termasuk memperkenalkan teknologi Dolby Audio dan sistem pereduksi gangguan suara.

2000 – 2010
Memasuki era komputer, keberadaan kaset pita mulai tersisihkan dan berganti dengan kepingan CD. Proses pengalihan suara via komputer yang lebih cepat plus kapasitas lagu yang semakin banyak membuat produsen audio berlomba-lomba membuat fitur Disc Drive pada dashboard mobil. Di periode ini juga, teknologi audio visual sudah terinstalasi di sistem hiburan mobil.  

2011 – 2015
Di periode ini, teknologi internet berkembang pesat, sehingga untuk memutarkan video atau lagu, tidak wajib menggunakan CD lagi. Para pengguna mobil cukup memasukan USB (Flash disk) atau memanfaatkan Bluetooth dan koneksi nirkabel (wireless) untuk memutar audio video favorit mereka.

2016 – Sekarang
Saat ini, digitalisasi pada car entertainment system melonjak drastis. Tidak hanya sebatas menampilkan audio dan video, sistem hiburan pada mobil juga memuat fitur GPS, dan TV Digital, yang terintegrasi dalam satu perangkat TV Receiver.

Salah satu pionir di industri ini adalah Asuka. Lewat produk terbaru mereka, Asuka TV Receiver HR-630, perusahaan asal Taiwan ini menawarkan sejumlah fitur yang benar-benar bisa menghibur para pengemudi mobil.

Fitur yang ditawarkan antara lain mencakup kemampuan akses internet full function dan steering-wheel control yang dapat memodifikasi fungsi head unit mobil dari yang tadinya hanya menyediakan konten berplatform AM/FM/DVD konvensional, menjadi aneka hiburan digital, seperti TV digital mobil, pemutar audio dan video, mirror link via smarpthone berbasis Android dan iOS.

“Ini bukan TV berbayar, sekali bayar tinggal pasang dan menikmati. Kualitas gambar dan suara jernih tanpa gangguan. Bahkan mobil dipacu hingga 160 km/jam kualitas gambar dan suara tetap baik,” tegas TJ Darmawan, Manager Pemasaran PT Intersis Sejahtera Abadi selaku distributor resmi Asuka di Indonesia, belum lama ini.

Khusus fitur TV digital, Asuka TV Receiver HR-630 sanggup menangkap lebih dari 30 stasiun televisi yang ada di Indonesia. Soal kualitas gambar, dijamin tanpa goyang, ‘semut’, apalagi berbintik, meskipun mobil dipacu dengan kecepatan 160 km/jam. Soal harga, antena digital ini berbanderol Rp. 4,5 juta.

Source: link