JAKARTA – Gaya berbisnis fleksibel belakangan ini mulai bermunculan. Inikah tren terbaru di dunia bisnis?

Model kerja nine-to-five tak lagi menjadi andalan bisnis yang memiliki kantor sebagai markas mereka. Pekerja tak lagi dipaksa harus tiba tepat pukul 09.00. Bahkan, kewajiban mengenakan busana kantor pun sudah mulai bergeser. Pekerja kini berlomba-lomba mencari pekerjaan yang menawarkan waktu kerja fleksibel.

Ini bukan berarti mereka malas atau mengurangi jam kerja. Polling oleh Gallup pada 2014 menyebutkan, rata-rata bekerja 40 jam sepekan faktanya dilakukan 47 jam. Globalisasi, meningkatnya konektivitas, dan kewajiban pekerja untuk selalu bisa dihubungi menjadi modal utamanya.

Di sinilah fleksibilitas berperan besar. Karyawan kemungkinan besar lebih mau menerima norma baru seperti mengintegrasikan pekerjaan dengan kehidupan sehari-hari, jika imbalan yang mereka dapatkan dirasa layak. Sudah banyak perusahaan yang memahami hal ini dan menerapkannya ke bisnis mereka.

Tak Butuh Kantor

Banyak kantor yang saat ini menerapkan model kerja jarak jauh. Banyak perusahaan memberi izin karyawannya untuk bekerja dari rumah, sehari atau beberapa hari dalam sepekan. Kian banyak kaum profesional, baik perusahaan maupun divisi SDM, bekerja dari luar adalah normal yang baru.

“Kaum millenial, khususnya, yang meyakini bahwa jadwal kerja fleksibel akan membuat Anda lebih bahagia,” kata Emily Moyer, kepala penerimaan karyawan untuk Remote Year, sebuah perusahaan startup yang mengombinasikan kerja dan traveling untuk profesional sehingga mereka bisa kerja sambil bepergian.

Kaum millenial, lanjut Moyer, memilih gaya hidup yang dianggap seimbang. Mereka memilih bekerja di perusahaan yang menganut nilai sama. Employee Engagement Study 2016 oleh Bank Pembangunan Asia (ADP) memastikan sentimen ini benar adanya. Millenial meranking fleksibilitas sebagai faktor signifikan dalam mencari pekerjaan.

Meski kompensasi dan benefit masih yang tertinggi diantara alasan-alasan karyawan memilih pekerjaan, fleksibilitas secara konsisten muncul di tempat ketiga. Perusahaan yang mengizinkan karyawan ambil cuti untuk melakukan aktivitas hiburan, meski tak selalu terhubung dengan pekerjaan mereka, akan dipadati pelamar.

“Orang ingin tetap bisa merasa seperti dirinya, di tempat kerja. Bagian dari memiliki kultur kerja yang mendukung adalah fleksibilitas dan transparansi. Sebab, ini cara top talent sukses,” papar Eileen Carey, CEO Glassbreakers, program mentorship untuk perempuan.

Di Glassbreakers, kata Eileen, selama orang berkomunikasi secara efektif, transparan mengenai manajemen waktu, serta berdedikasi sepenuhnya pada perannya, “Maka kami akan empower mereka untuk bekerja dimanapun yang dianggap paling produktif.”

Source: link