JAKARTA – Setelah ketinggalan penjualan iPhone 6S, Apple akhirnya masuk lagi ke pasar terbesarnya di Asia Tenggara, Indonesia, membawa iPhone 7.

Ini karena raksasa teknologi asal San Francisco tersebut akhirnya berkomitmen untuk sebuah pusat riset dan pengembangan senilai US$44 juta, sehingga memenuhi persyaratan agar smartphone 4G menggunakan 30% komponen dari lokal.

Komponen tersebut bisa terdiri dari piranti lunak dan keras. Penjualan iPhone 7 dan 7 Plus dimulai pada 31 Maret 2017 setelah janji membangin sebuah pusat riset dan pengembangan di Tangerang. Apple tak bisa menjual 6S di Tanah Air, sementara 7 mulai dipasarkan pada September 2016.

Ini adalah sebuah kemenangan bagi Indonesia yang meminta perusahaan asing berperan besar dalam mengembangkan industri ponsel. Ketika pemerintah mengumumkan aturan tersebut, pabrikan ponsel bersikap berbeda-beda. Seperti OnePlus dari Tiongkok yang memilih keluar.

Namun banyak pula yang mematuhinya. Samsung misalnya, yang telah mengumumkan akan membuat ponselnya dari pabrik di Jawa Barat, sebulan sebelum aturan itu dibuat pemerintah Indonesia. Sementara Xiaomi membuat pabrik di Riau, Februari 2017.

Sebanyak 65% ponsel yang dijual di Indonesia sudah dipabrikkan di Tanah Air, menurut data South China Morning Post. Sebanyak 34 merek telah memiliki 20 fasilitas di negara ini. Analis di Indonesia memperkirakan, mereka membuat 39 juta smartphone per tahun.

Langkah Apple ini amat penting. Euromonitor International memprediksikan, Indonesia akan menjadi pasar ponsel terbesar keempat di dunia pada 2020 dengan penjualan lebih dari satu miliar dolar Amerika. Indonesia juga diperkirakan memiliki 92 juta pengguna smartphone pada 2019.

Merek asal Amerika Serikat ini juga menghadapi persaingan ketat, terutama terkait harga jual yang merupakan masalah sensitif bagi pasar di Indonesia. Pasar smartphone Indonesia masih dikuasai pabrikan Korea Selatan, Samsung (26%) dan Oppo dari Tiongkok (19%).

Source: link