JAKARTA– Segala sesuatu yang berlebihan tidak akan memberikan hasil positif. Begitu pula mengonsumsi protein terlalu banyak.

Dalam jumlah cukup, protein dibutuhkan tubuh untuk regenerasi sel, membentuk hormon, otot dan tentu mengenyangkan perut Anda yang keroncongan. Apalagi protein memberikan efek kenyang lebih lama. Namun, apa yang terjadi bila Anda mengonsumsinya secara berlebih?

Manyantap makanan berprotein terlalu banyak menyebabkan nafas bau. Ini terjadi ketika Anda diet tinggi protein dan rendah karbohidrat untuk mengurangi berat badan. Tubuh memasuki fase ketosis, yakni pembentukan senyawa keton saat membakar lemak. Senyawa ini mengeluarkan aroma tidak sedap. Aroma ini menetap di mulut walaupun Anda menyikat gigi, berkumur maupun membersihkan dengan benang gigi.

Memperburuk suasana hati alias mood juga bagian efek buruk konsumsi protein berlebih. Otak Anda membutuhkan karbohidrat untuk merangsang produksi hormon bahagia (serotonin). Penelitian di Australia menemukan, orang dengan diet rendah karbohidrat lebih mudah tersinggung ketimbang diet tinggi karbohidrat namun rendah lemak.

Konsumsi protein berlebih memberatkan kerja ginjal. Protein tinggi menghasilkan unsur nitrogen berlebih yang harus dikeluarkan melalui urin. Sehingga ginjal bekerja ekstra menyaring darah dari unsur tersebut. Tak hanya ginjal, beban kerja psistem pencernaan juga meningkat. Kondisi ini menyebabkan pencernaan menjadi kembung dan sembelit karena asupan serat tidak sebanding dengan protein.

Dampak buruk terakhir yakni menyebabkan kegemukan. Memang diet tinggi protein dalam menurunkan berat badan dalam jangka pendek. Tetapi jika Anda tetap melakukannya tanpa mengurangi jumlah nutrisi lain justru meningkatkan berat badan (overweight).

Source: link