JAKARTA – Sejak pertama kali meluncur beberapa tahun lalu, banyak yang meragukan definisi mobil ramah lingkungan dalam penyebutan low cost green car (LCGC) atau yang punya nama asli Kendaraan Bermotor Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2).

Alex Pollack, President Honeywell Indonesia, perusahaan teknologi asal AS yang juga memproduksi turbocharger dengan merek Garrett bahkan menyebut definisi ‘green car’ di LCGC sangat problematis karena bukan dalam rangka mengurangi polusi.

“Di Indonesia ada LCGC, tapi kita lihat hanya untuk irit BBM bukan untuk mengurangi polusi. Jika dilihat memang mesinnya kecil dan irit, tapi efisisensinya belum bisa dibilang baik,” katanya beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, syarat mobil LCGC ialah mobil bisa menempuh jarak 20 km per satu liter bensin. Menurut Alex, idealnya ‘green car’ ialah mesin yang tidak lagi memakai BBM, melainkan listrik, hidrogen atau lainnya.

“Jadi lebih menekankan kepada mobil harga murah, bukan mengurangi polusi,” katanya.

Selain belum bisa dikatakan ramah lingkungan lantaran masih menggunakan bahan bakar fosil, mesin yang dipakai di mobil LCGC itu tidak ramah lingkugan karena standar emisinya masih rendah.

Mesin mobil-mobil LCGC masih mengeluarkan tingkat polusi tinggi lantaran standar emisi di Indonesia juga masih rendah. Sejauh ini Indonesia masih menganut Euro2, tertinggal jauh dari beberapa negara tetangga yang sudah Euro4.

“Di Indonesia buat mesin dengan kualitas rendah untuk dalam negeri. Standar emisinya juga rendah sehingga sulit untuk ekspor, sehingga ekspor kecil sekali,” katanya.

Source: link

©Exclusive from Dapurpacu.com for AdiraClubMember.com