JAKARTA – Di balik kepraktisan kopi instan terkandung senyawa beracun yang memengaruhi sistem saraf.

Kopi instan diproduksi dari ekstrak kopi yang dikeringkan menggunakan pemanasan suhu tinggi. Proses ini menghasilkan senyawa acrylamide (C3H5NO) yang terbukti memicu kanker, menurunkan kesuburan dan kerusakan saraf pusat pada tikus dan kera.

Bahkan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyatakan acrylamide dapat menyebabkan kerusakan saraf. Selaras dengan hal ini, penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry (2008) menunjukkan efek keracunan saraf (neurotoksik) acrylamide menghambat transmisi impuls saraf.

Dampak neurotoksik ini menimbulkan gejala mati rasa pada tangan dan kaki. Hal ini sering dikaitkan dengan potensi acrylamide memicu penyakit Alzheimer.

Selain itu, studi Durham University (2009) menemukan, asupan kopi instan sebanyak tujuh gelas atau lebih berisiko tinggi mengalami halusinasi. Para peneliti menduga efek ini disebabkan kafein dalam kopi instan meningkatkan produksi hormon stres, cortisone.

Senyawa beracun ini juga terkandung dalam kopi panggang segar. Namun, sebuah penelitian yang dipublikasi dalam jurnal US National Library of Medicine National Institutes of Health (2013) menemukan kopi instan memiliki kadar acrylamide lebih dari 100% ketimbang kopi panggang segar. Namun, kopi subtitusi alias produk sampingan kopi tanpa kafein justru memiliki acrylamide hingga 300% lebih.

Kendati efek acrylamide telah ditemukan tetapi Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) pada 2002 melaporkan, tidak ada efek neurotoksik pada manusia bila asupan acrylamide hanya sebatas 0,5 mg/kg berat badan per hari.

Tak hanya pada kopi, acrylamide juga terdapat pada beberapa makanan seperti kentang goreng, jus prune, sereal emping jagung (corn flakes), zaitun hitam kaleng, almond dan kacang tanah panggang serta cokelat.

Source: link