JAKARTA– Tidak semua cairan rokok elektrik (e-liquid) aman dikonsumsi setelah dipanaskan pada suhu tinggi.

Yayasan Pemerhati Kesehatan Indonesia (YPKI) bersama Tim Peneliti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran melakukan penelitian bertajuk Penilaian Risiko Bahan Kandungan Cairan Rokok Elektrik (Rotrik) dan Reaksinya Terhadap Pemanasan pada 2016.

Salah satu tim peneliti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, Bandung Dr. drg. Amaliya, MSc. PhD menjelaskan, melalui pengujian kualitatif sembilan sampel e-liquid berbagai merek dan harga di Bandung ditemukan tujuh sampel menghasilkan zat baru setelah dipanaskan pada suhu tinggi (230 derajat Celsius) menggunakan rokok elektrik.

“Belum diketahui zat tersebut. Tapi dipastikan ini tidak aman dikonsumsi (non-food grade),” katanya saat acara Paparan Penelitian Cairan Rokok Elektrik, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik Indonesia di Jakarta, Rabu (16/11/2016).

Drg. Amaliya menambahkan munculnya zat baru tersebut persis seperti proses degradasi senyawa pada minyak goreng yang dipanaskan pada suhu tinggi. “Ini penelitian awal. Kami akan meneliti jenis zat baru tersebut,” sambungnya.

Ia mengkhawatirkan zat baru tersebut dapat bersifat pemicu kanker (karsinogenik), merusak gen (mutagen), beracun dan merusak sel maupun embrio (teratogenik).

Sebanyak sembilan sampel acak e-liquid ini diperoleh dari toko-toko di Bandung dari beragam merek dan harga jual berkisar Rp45 ribu – Rp600 ribu. Umumnya e-liquid mengandung bahan yang tergolong aman dikonsumsi dalam dosis rendah. Misalnya UP Propylene Glycol, USP Glycerin, Nikotin dan zat perasa (Thujone dan Ethyl Vanilin).

Source: link