JAKARTA – Periksa beberapa bagian motor Anda sebelum berkendara agar hati tenang, aman dan nyaman.

Saat ini motor menjadi transportasi andalan masyarakat karena lebih fleksibel menerjang kemacetan, ketimbang mobil maupun angkutan umum.

Tidak mengherankan bila jumlah pengendara motor semakin membludak. Situasi ini akan meningkatkan risiko kecelakaan di jalan raya. Sehingga Anda perlu memastikan kondisi motor sekaligus kelengkapan atribut berkendara.

Defensive Riding Instructor Queenrides Citra Ayu Lestari mengatakan, sebelum mengendarai motor memerlukan persiapan seperti pre-trip inspection.

“Cek motor terlebih dahulu dengan TICLOCS (Tires, Controls, Lights, Oil, Chassis, Stands),” ucapnya di Jakarta, baru-baru ini.

Pemeriksaan pertama pada motor adalah ban (tires). Ban yang telah aus (botak) kehilangan daya cengkeram (grip) sehingga berisiko tinggi tergelincir di jalan, khususnya pada jalan yang basah. Tekanan ban juga tidak kalah penting.

“Idealnya tekanan ban depan 28 psi dan belakang 32 psi,” sambungnya.

Kemudian bagian kendali (controls) jangan diabaikan. Bagian ini meliputi setang gas, tuas rem (bagian tangan dan kaki), sakelar lampu (lampu utama, lampu senja dan lampu sein) dan panel speedometer (cek indikator kecepatan dan bahan bakar). Bagian sistem kendali tersebut sangat penting untuk memastikan motor dapat melaju dengan aman.

Selanjutnya oli juga perlu diperhatikan. Oli tidak seperti bensin yang selalu habis setelah dipakai. Hanya saja konsistensi menjadi lebih encer dan cenderung lebih hitam setelah oli lama digunakan.

Menurutnya, oli berguna mengurangi gesekan antar komponen mesin, sebagai pendingin, peredam getaran dan bising, pembersih kotoran serta anti karat. Oli maupun minyak rem perlu diganti secara berkala. Oli motor diganti setiap 2.000 km – 4.000 km dan minyak rem setiap 20.000 km – 30.000 km.

Bagian rangka (chassis) kendaraan sudah dirancang khusus agar nyaman, aman dan selamat. Merubah bentuk dengan menambah atau mengurangi komponen motor akan menurunkan tingkat keamanan.

Spion standar diganti spion berukuran kecil sering dilakukan pengguna motor agar mudah menyalip. Lalu meletakkan helm maupun jaket di spion sehingga merubah bentuk standar spion. Kebiasaan ini bisa menurunkan tingkat keamanan motor.

Kedua bilah cermin ini sengaja dirancang lebih panjang dari setang agar Anda bisa memperkirakan sebelum menyalip kendaraan lain. Jika tidak muat berarti Anda tidak disarankan menyalip.

“Ini garda terdepan. Bila ada hentakan maka spion dulu yang bengkok,” ucap salah satu relawan Road Safety Association ini.

Citra menambahkan, banyak orang juga masih keliru menggunakan standar motor. Pemakaian standar samping hanya digunakan saat memarkir dalam waktu singkat. Bila membutuhkan waktu parkir lama sebaiknya menggunakan standar bawah.

“Terlalu sering menggunakan standar samping lebih dari 3 jam mengurangi usia pakai shockbreaker dan ban karena beban motor menumpu pada satu sisi saja. Selain itu, motor mudah tergelincir atau terjatuh sehingga merusak bodi motor,”pungkasnya.

Source: link