Bhama Peugeot 1967: Nostalgia Dengan si Antik

Terselip di antara jajaran sepeda Oenthel dalam sebuah acara di Jambi Town Square beberapa waktu lalu, sepeda motor lawas ini cukup menarik perhatian. Yup, sebuah Bhama Peugeot tahun 1967 milik Soni, karyawan Dinas Perhubungan Jambi.

Sepeda motor keluaran negeri yang ter kenal dengan Menara Eifel-nya ini mengusung konsep hybrid. Karena selain menggunakan mesin, juga bisa dikayuh layaknya sepeda. Bhama Peugeot yang dimiliki Soni memiliki kapasitas mesin 38cc. Walhasil menurut Soni, sepeda motor ini bebas pajak, karena di bawah 50 cc.

Sepeda motor ini dihunting Soni di internet. Menurut pemilik sebelumnya, sang motor lama tak hidup. ”Saya bayari Rp 2,5 juta. Kemudian saya hunting lampu depan dan spidometer asli, Rp 500 ribu. Saat ini saya masih hunting lampu sein dan lampu stop yang asli, susahnya luar biasa,” ungkap Soni yang mengaku kalau sepeda motor tua ini merupakan Bhama Peugeot satu-satunya di Jambi yang bisa berfungsi.

Pria kelahiran tahun 1967 ini merasa kalau memiliki sepeda motor antik menjadi kebanggan tersendiri baginya. Meski sepeda motor tua, tapi Bhama Peugeot ini jarang rusak. Kalau rusak paling putus rantai. Tapi kan ada v-belt nya,” Imbuh Soni yang juga mengkoleksi sekitar 20 sepeda Oenthel, Vespa tahun 1965, motor Honda 70, mobil VW Kodok dan VW Varian.

Sedikit kilas sejarah, orang tua Soni dulu juga memiliki Bhama Peugeot tipe bebek tahun 1978. Ia kerap belajar mengendarai motor menggunakan Peugeot itu. “Nah, motor Bhama Peugeot yang saya punya sekarang ini merupakan tipe skutik,” tandasnya.

Layaknya sepeda motor antik, sulitnya berburu spare part yang sesuai, merupakan hal lumrah. Salah satunya pelek yang langka. ”Karena sistem rem-nya beda dengan motor-motor sekarang. Bhama Peugeot saya ini menggunakan kanvas rem kecil punya sepeda. Tali belt pakai tali belt AC mobil. Ring piston juga saya comot dari genset merek Yamaha ET 500,” urai Soni. Yang pasti, Bhama Peugeot kesayangannya itu selalu menemani rutinitas kesehariannya. Sering diajak keliling kota bersama komunitas sepeda Oenthel dan kerap dipakai pergi-pulang dari rumah ke kantor. ”Bahan bakarnya irit banget!,” jelas Soni.

 

Artikel terkait